Perang Bisnis Seluler Belum Selesai

June 8th, 2005 by andrias98

Masih rendahnya tingkat penetrasi pengguna telepon di Indonesia serta makin tingginya kebutuhan komunikasi mobile menyebabkan bisnis telekomunikasi seluler menjadi lahan menarik untuk digarap di Indonesia. Saat ini di Indonesia telah beroperasi beberapa operator telekomunikasi berbasis seluler. Operator-operator tersebut bisa disebutkan contohnya adalah Telkomsel, Indosat, XL, dan juga Lippo Telecom yang berbasis teknologi GSM, kemudian Mobile-8 yang berbasis teknologi CDMA, serta Bakrie Telecom (Esia), Telkom (Flexy), dan Indosat (Star_One) yang juga berbasis CDMA namun dengan jangkauan lokal (fixed wireless). Selain itu masih terdapat CAC dan NTS yang telah memegang lisensi sebagai operator 3G berbasis WCDMA.

Dengan jumlah nomor yang telah beredar diperkirakan sekitar 30 juta nomer, maka diperkirakan masih terdapat pasar yang cukup potensial di Indonesia bagi operator seluler. Karena berbeda dengan telepon fixed line yang biasanya hanya memerlukan satu nomor telepon untuk dipakai satu keluarga/rumah, maka nomer ponsel bisa dimiliki tiap anggota keluarga, bahkan ada orang yang memiliki lebih dari satu nomer ponsel. Sehingga perang perebutan pasar antara berbagai operator pun nampaknya tidak terelakkan.

Segmentasi , Target, dan Posisi di Pasar

Sesuai dengan umumnya produk teknologi, maka teknologi seluler juga mengikuti kaidah network effect, dimana dengan makin banyak pelanggan yang dimiliki suatu operator, maka akan menarik makin banyak pelanggan baru ke operator tersebut, karena orang akan cenderung mengikuti pilihan orang banyak. Selain itu, dengan makin banyak pelanggan, maka variasi layanan yang diberikan oleh operator  akan makin banyak dan bisa dinikmati dengan optimal oleh pelanggan.

Melihat hal tersebut, maka operator tidak boleh hanya terfokus di satu segmen masyarakat saja. Pasar low end yang lebih besar jumlah marketnya namun lebih kecil ARPU ( Average Revenue Per User), maupun pasar middle up yang lebih kecil jumlah marketnya namun lebih besar ARPU nya harus sama-sama digarap. Namun tentu tiap segmen memerlukan layanan yang berbeda. Sehingga langkah meluncurkan produk yang berbeda untuk segmen yang berbeda merupakan sebuah langkah yang tepat.

Untuk pasar low end, yang diperlukan adalah sarana berkomunikasi suara dan sms yang berharga murah. Disini telah ada produk kartu As dari Telkomsel, kartu Jempol dari XL, serta IM3 (dengan paket M3 Shock) dari Indosat yang bersaing head to head dengan fasilitas dan harga yang hampir serupa.Lalu di pasar middle ada Simpati dari Telkomsel, Bebas dari XL, serta Mentari dari Indosat, serta Fren dari Mobile-8. Kemudian di pasar high end ada kartu-kartu pasca bayar seperti Halo dari Telkomsel, XPlore dari XL, dan Matrix dari Indosat.

Segmentasi juga tidak hanya berdasarkan ARPU nya, namun ada juga bisa dilakukan pembagian segmen berdasar kondisi psikografis-behavior, yaitu ada segmen pengguna ponsel namun ingin digunakan dalam area lokal saja, atau sebagai pengganti fixed line. Di pasar inilah berada Flexy, Star_One, dan Esia.

Karena penggunaan telepon sebagian besar untuk suara dan SMS serta tingkat mobilitas orang yang sebagian besar masih terbatas di area lokal, maka boleh dibilang batas teknologi menjadi semu, sehingga kompetisipun bisa terjadi antar produk yang memiliki teknologi dan kategori  yang berbedapun bisa terjadi. Sehingga para operator GSM/CDMA nasional saat ini sesungguhnya juga berkompetisi secara riil dengan operator CDMA fixed wireless.

Layanan dan Kemudahan Itu Penting Bagi Pelanggan

Teknologi yang terus berkembang, menjadikan munculnya berbagai layanan dan kemudahan yang bisa diberikan kepada para pelanggannya. Faktor layanan dan kemudahan inilah yang akan memelihara loyalitas pelanggan pada prodiuk operator. Ketersediaan outlet-outlet / agen-agen penjualan kartu perdana dan voucher yang luas,sehingga pelanggan mudah untuk membeli kartu/voucher juga merupakan faktor yang perlu diperhatikan. Juga perlu diperhatikan adalah penanganan keluhan dari pelanggan yang bisa disampaikan lewat call center maupun secara langsung ke pusat layanan pelanggan di kotanya. Kecepatan penanganan, keramahan, serta kemudahan prosedur akan membuat pelanggan makin cinta terhadap produk operator, sehingga enggan untuk berpaling ke produk lain. Kemudahan prosedur misalnya bisa diberikan pada prosedur pergantian kartu dengan nomer yang sama apabila terjadi kerusakan atau kehilangan.

Meskipun suara dan SMS masih memegang peranan terpenting dalam pendapatan operator, namun sebagai bagian dari produk teknologi, maka layanan-layanan yang mengadopsi teknologi terkini juga harus dapat disediakan oleh operator. WAP dan MMS, Value Added SMS/MMS, lalu teknologi GPRS dan EDGE, serta berbagai fitur menarik lain bisa ditawarkan kepada pelanggan. Salah satu yang mungkin bisa dieksplorasi adalah teknologi LBS (Location Based Service) yang bisa digunakan untuk SMS/MMS Marketing, fitur2 penunjuk lokasi, maupun fitur penunjuk fasilitas terdekat. Misal bila seorang pelanggan berada di Mall X, maka dia akan mendapat SMS marketing yang berisi “Ada diskon 20 % di supermarket A di Mall X” atau “Ayunkan langkah anda ke lantai 3 Mall X untuk mendapatkan buku menarik di toko Z”. Mungkin saat ini layanan-layanan tambahan itu belum cukup signifikan, tetapi operator akan dicap “ketinggalan” bila tidak dapat menawarkan layanan-layanan tambahan.

Price War ?

Bisnis seluler saat ini memang mulai memainkan price war. Ketika bermacam-macam teknologi ditawarkan namun pendapatan dari teknologi itu belum signifikan, serta mudahnya fitur dan layanan operator ditiru oleh operator lain. Maka perang harga kemudian muncul sebagai upaya pemasaran, dan kemudian muncul reaksi-reaksi dari para operator sebagai bagian dari kompetisi Bisa dilihat betapa murahnya kartu perdana, sehingga dengan bermodal 20 ribu rupiah, maka seseorang bisa mendapat nomer telepon. Juga makin rendahnya tarif percakapan yang digunakan oleh semua operator seluler.

Secara jangka pendek, perang harga memang akan menarik pelanggan baru. Perang harga bisa juga dibaca sebagai “Adu Nafas Finansial” antar operator seluler, mengingat operator seluler dipastikan menggunakan sistem subsidi pada harga kartu perdananya, sehingga hanya operator yang “bernafas panjang” yang bisa survive, serta akan menciptakan entry barrier bagi operator-operator baru, karena akan membuat calon pelanggan berpikir “Jangkauan luas, harga murah, kenapa pilih yang lain ?”..

Namun murahnya harga kartu perdana akan mempertinggi terjadinya petualangan pelanggan dari satu nomer ponsel ke nomer lain. Juga perang harga tidak sehat kalau berlangsung secara terus menerus, memang hal itu menguntungkan bagi konsumen, namun bila harga menjadi satu-satunya diferensiasi, maka kartu seluler akan berubah menjadi komoditi, dan akhirnya sia-sialah investasi besar untuk membangun brand. Maka operator seluler harus secara kontinyu mengkomunikasikan positioningnya kepada masyarakat serta membuat berbagai diferensiasi atas produk-produknya, sehingga bisnis seluler akan tetap menjadi bisnis yang menguntungkan bagi para operator

Sejarah Web

June 8th, 2005 by andrias98

Web merupakan bagian yang populer dari penggunaan internet. Asal mula web sebenarnya berasal dari proposal yang ditulis oleh Tim Berners-Lee pada bulan Maret 1989 untuk Cern di Swiss (European Laboratory for Particle Physics). Dia juga mennuliskan sebuah paper tentang hypertext yang menjelaskan tentang konsep dasar dibangunnya web yang terdiri dari : content (idealnya dapat dibaca secara universal), links (hypertext), client viewer (browser), dan aplikasi server (httpd) yang mengirimkan content. Isi dari proposal dan paper tersebut bisa dilihat di http://www.w3.org/History/1989/proposal.html dan http://www.w3.org/History’19921103-hypertext/hypertext/WWW/proposal.html.

Kemudian pada bulan Mei 1991, lingkungan www disebarkan pada mesin-mesin di Cern. Pada November 1992 dicatat telah ada 26 server WWW yang telah online. Setelah itu pada bulan Maret 1994, Marc Andreeson, pembuat web browser Mosaic, meninggalkan NCSA dab\n mendirikan “Mosaic Communication Corp.” yang kemudian akan menjadi Netscape.

W3C (http://www.w3.org/) sendiri berdiri pada bulan Oktober 1994. W3C adalah organisasi internasional yang bertanggungjawab untuk memelihara standart yang berkaitan dengan implementasi teknis dari web ( seperti html, xml, css, dhtml, dan http).

Komponen-komponen dari web sendiri tersusun atas : infrastruktur transfer data, content (format dasar dari hampir semua web content adalah html), client, server (komputer yang menyimpan kemudian mendistribusikan web content ke client), serta protokol (aturan yang digunakan oleh server dan client untuk berkomunikasi). Kesemuanya saling terkait untuk menjadikan halaman web seperti yang sering kita lihat.

Kenalan dengan GSM (bagian 2) : Take A Look At The Infrastructure

June 3rd, 2005 by andrias98

Tulisan ini merupkan kelanjutan dari tulisan bagian satu. Disini penulis akan memberikan gambaran tentang subsistem GSM dan sekelumit implementasi subsistem tersebut pada dunia nyata.

Hierarki dari sistem GSM terdiri dari cell, Location Area (LA), Service Area, Public Land Mobile Network (PLMN) area, dan GSM service area. Beberapa cell menjadi satu LA. Beberapa LA menjadi satu Service Area, dan seterusnya. Sedangkan GSM service area adalah semua wilayah/negara yang menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) GSM.

Sistem GSM terdiri dari dua subsistem yaitu Switching System dan Base Station System. Masing-masing subsistem akan dijelaskan berikut.

Switching System (SS)

Subsistem Switching System terdiri dari lima entitas fungsional yaitu :
1. Mobile services Switcing Centre (MSC)
MSC bertugas menjalankan fungsi switching antar pelanggan seluler ataupun antara pelanggan seluler dengan PSTN (telepon rumah).
2. Home Location Register (HLR)
HLR berisi data dari pelanggan seluler yang terdaftar dalam satu area PLMN (Public Land Mobile Network).
3. Visitor Location Register (VLR)
VLR berisi data para pelanggan seluler beserta Location Areanya. Pelanggan yang ada datanya di VLR adalah pelanggan yang sedang berada di Service Area tersebut.
4. Authentication Center (AUC)
AUC menangani autentikasi dan fasilitas keamanan dalam sistem.
5. Equipment Identity Register (EIR)
EIR berisi daftar merk dan model mobile station (handphone) yang telah direkomendasi oleh sistem. Sehingga setiap akan terjadi komunikasi, EIR mencocokkan model handphone pelanggan dengan datanya.Komunikasi hanya akan terjadi bila pelanggan menggunakan handphone yang di approve oleh EIR.

Base Station System (BSS)

Subsistem Base Station System terdiri dari dua entitas fungsional, yaitu:
1. Base Station Controller (BSC)
BSC mengatur setup dan operasi dari BTS-BTS.
2. Base Transceiver Station (BTS)
BTS menangani transmisi dari dan ke mobile station.

In The Real World

Dalam kenyataannya, ada berbagai vendor yang menawarkan infrastruktur GSM tersebut. Operator seluler bebas memilih vendor yang akan digunakan. Dalam sebuah subsistem harus menggunakan vendor yang sama, karena tiap vendor memiliki teknik yang berbeda dalam implementasi subsistem GSM. Namun subsistem berbeda dapat berasal dari vendor yang berbeda, karena hubungan antar subsistem merupakan standar GSM. Jadi misal SS menggunakan vendor Ericcson dan BSS menggunakan Siemens, maka keseluruhan entitas fungsional didalam SS menggunakan produk dari Ericcson, dan keseluruhan entitas fungsional dalam BSS menggunakan produk dari Siemens, dan antara SS dan BSS tersebut tetap dapat berkomunikasi dan berjalan dalam sebuah sistem yang sama. Berbagai vendor yang menawarkan infrastruktur GSM antara lain Ericcson, Siemens, Nokia, dan Fujitsu.

Seperti telah disebut diatas, masing-masing vendor memiliki ciri khas tersendiri dalam implementasi subsistem GSM. Ericcson mengimplementasikan subsistem GSM dalam standar yang mereka sebut CME 20. Mereka membuat MSC dan VLR dalam unit yang terintegrasi, HLR dalam unit terpisah, serta BSC pada unit yang terpisah. Ericcson juga menyebut BTS sebagai RBS (Radio Base Station). Sedangkan Siemens selain menyebut SS sebagai SSS (Switching Sub System), BSS sebagai RSS (Radio Sub System) dan menambahkan OMS (Operation and Maintenanace Sub System).

Di Indonesia, seringkali sebuah Switching System diletakkan dalam satu gedung bersama dengan beberapa BSC sekaligus, dan kemudian menyebutnya sebagai Switching Centre. Jumlah dan letak Switching Centre sendiri tergantung desain dari masing-masing operator, namun biasanya terletak di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang/Jogja, Surabaya, Medan, Denpasar, Batam, serta masing-masing sebuah di pulau Kalimantan dan Sulawesi.

Selain itu, semua operator di Indonesia -bahkan di negara-negara asia yang menggunakan GSM- tidak menerapkan penggunaan EIR (Equipment Identity Register) dalam sistem GSM mereka. Sehingga semua jenis dan merk handphone dapat beroperasi dalam jaringan GSM di Indonesia.

Kenalan dengan GSM (bagian 1)

June 3rd, 2005 by andrias98

Dengan makin menyatunya teknologi telekomunikasi dan informatika -lazim disebut TELEMATIKA- maka adalah sebuah langkah yang bijaksana apabila kita mengenal juga teknologi telekomunikasi.

Di tulisan ini akan membahas secara ringkas tentang teknologi GSM (Global System for Mobile communication) sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman penulis.

GSM merupakan singkatan dari Global System for Mobile communication. Standar ini dibuat di Eropa dengan maksud untuk membuat sistem telekomunikasi seluler yang handal yang dapat digunakan oleh berbagai negara.Sistem seluler sendiri adalah sistem yang menggunakan power transmisi yang kecil sehingga memungkinkan frequency reuse (penggunaan frekuensi yang sama pada jarak yang berjauhan).

GSM memiliki 3 macam frekuensi: 900 MHz, 1800 dan 1900 MHz (juga disebut DCS 1800 dan DCS 1900).

Terus apakah teknik yang digunakan untuk frekuensi-frekuensi tersebut berbeda ?

Jawabnya : tidak.
Teknik-teknik yang digunakan pada semua frekuensi adalah sama persis.Kesemuanya memakai metode akses TDMA (Time Division Multiple Access) serta half duplex (memisahkan frekuensi untuk uplink dan downlink). Juga duplex distance, speech coder, transmission rate, hingga modulasi (dalam hal ini adalah GMSK) semuanya sama.

Di Indonesia, lisensi untuk frekuensi untuk GSM adalah 900 dan 1800 MHz. Dan frekeunsi-frekuensi tersebut telah dialokasikan untuk para operator seluler yang ada di Indonesia. Untuk pemain yang besar (Telkom Grup,Indosat Grup, Excelcomindo (XL)) mereka memiliki alokasi frekuensi di kedua jenis frekuensi tersebut.Kedua frekuensi tersebut memang dapat dinikmati oleh pengguna, karena ponsel yang beredar kebanyakan mendukung dual band (sehingga muncul brand Dual Band dari telkomsel ataupun Connectrix dari proXL).Keuntungan penggunaan dual band adalah apabila jalur komunikasi dapat diarahkan menggunakan frekuensi 900 ataupun 1800 MHz. Dan hal ini dapat diatur oleh operator. Sehingga mengurangi kemungkinan penuhnya frekuensi yang merupakan sebab utama gagalnya komunikasi.

bersambung……

Sebentuk Rindu

June 3rd, 2005 by andrias98

Siang yang menyengat
sinar matahari yang menerangi bumi
tak jua menguapkan perasaan
yang terbentuk dalam jiwa
selalu meronta dan berteriak
mengabarkan keiinginan ‘tuk berjumpa
untuk sekedar bertemu muka
menjalin seuntai canda
dalam hangatnya waktu berdua

Aku rindu kamu

Belajar Dari Kegagalan

May 27th, 2005 by andrias98

Hari ini aku menerima kabar kemungkinan ada salah satu hal yang kukerjakan telah gagal,atau at least belum ada kepastian hasilnya. Sempat kecewa juga sih, tapi aku mesti tetap maju terus dan berusaha bagi kesempatan-kesempatan lain. So motto "Jatuh Untuk Bangun" dari temenku iie merupakan inspirasi yang bagus buatku.

Oya saat ini aku lagi sibuk cari-cari kerjaan. Sesuai pengalama kerjaku, aku sih berminat di bidang marketing/marketing communication/ brand development, atau bisa juga kerjaan-kerjaan manajemen / project management. Tapi aku akan seneng sekali bila temen2 mau berbagi info apa aja.

New Home ! Panas !

May 22nd, 2005 by andrias98

Sejak miggu lalu aku pindah tempat tinggal. Sebenarnya pindahnya gak jauh-jauh sih,cuman pindah kesebelah rumah. Ya moga pindah tempat tinggal juga membuat aku makin dekat pada harapan dan impian-impianku.

Tapi sekarang udaranya lagi panas nih, karena Jogja juga panas banget ! Apa karena pergantian musim ya ? Atau jangan-jangan Merapi lagi beraktifitas ? Jadi pengen beli AC, tapi ntar bayar listriknya melambung lagi :-(

Omong-omong soal listrik, kayaknya listrik di negeri kita gak pernah beres. Sekarang PLN lagi sosialisasi bahwa kita mesti mengurangi pemakaian listrik 50 watt dari jam 17.00 - 23.00, karena ada perbaikan instalasi pembangkit listrik. Aku juga heran, PLN kan terus-terusan rugi, tapi kok tetep aja gak bisa memenuhi supply listrik, apa kita harus patungan beli pembangkit listrik sendiri ? Payah emang….

Telusuri jalan

April 29th, 2005 by andrias98

Hari yang berganti
menuju pencarian diri
dengan menulusuri jejak pancaran cahaya
menatap lingkaran masa depan
serta hamparan angan dan impian

Akankah semua memberikan guratan indah
ataukah sekedar jawaban atas keresahan
namun semua tak akan padam
dan akan terus memancar
memberikan nyawa
pada raga
dan juga
pada jiwa

artikel-artikel lama

April 25th, 2005 by andrias98

Ini aku berusaha ngumpulin lagi artikel-artikel lamaku, doain aja ya temen2 segera bisa ku post ke blog ku ini.Btw, lagi males ngapa2 ini nih, sepi banget di rumah.

nge Blog lagi

April 19th, 2005 by andrias98

Akhirnya bisa nge blog lagi..thanks  buat friendster yang bisa bikin ini jadi mudah :D