Review Sukses AFI
Tia, Micky, Haikal, Nia …..atau Veri, Mawar, Kia…Nama-nama itu begitu populer setelah sukses acara Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Sebuah popularity contest yang digelar Indosiar dan saat ini memasuki jilid ke-3. Kenapa acara (dan juga akademia AFI) itu bisa populer di
Indonesia ? Kenapa bisa ratusan ribu orang
Indonesia rela ber SMS atau menelpon untuk mendukung akademia favoritnya ?
AFI sebenarnya merupakan acara yang lisensinya diambil dari sebuah acara yang bertajuk La Academia di Mexico, kemudian Indosiar mengemas sedemikian rupa untuk masyarakat
Indonesia . Acaranya sebenarnya merupakan semacam singing contest yang ditentukan pemenangnya berdasarkan SMS/telepon dari pemirsa. Disinilah terlihat kecerdikan dari Indosiar untuk mengemas rangkaian acara terdiri dari Pre-Eliminasi, Up Close and Personal, Diary AFI, Konser, Menjelang Konser, dan lain-lain. Acara-acara itu sukses menjadi acara dengan rating yang tinggi menurut surver AC Nielsen.
Kunci utama dalam AFI adalah “Emosi”. AFI sebisa mungkin melibatkan emosi pemirsa dalam setiap rangkaian acaranya. Selain penampilan di Konser, rangkaian acara lain tidak kalah pentingnya dalam menggaet permirsa. Dimulai dari menyebut nama akademia dan asal daerah seleksinya, disini pemirsa mulai digiring “semangat kedaerahannya” untuk mendukung akademia. Lalu, di Up Close and Personal, pemirsa dikenalkan pribadi-pribadi para akademia, lengkap dengan kisah-kisah mengharukan yang muncul dari mereka, maka simpati, empati, ataupun kekaguman permirsa pada perjalanan hidup mereka, membuat keterikatan itu makin muncul. Sedangkan Diary AFI mengajak pemirsa untuk melihat keseharian para akademia, disitu terlihat sifat-sifat berbeda dari para akademia, ada yang pendiam, pemalu, cerewet, polos, dan lain-lain. Karena pada dasarnya manusia memiliki tipe sikap ideal yang berbeda, maka lewat diary AFI inilah para pemirsa menemukan sendiri masing-masing akademia dengan sifat favoritnya. “Oh, aku suka Nia karena dia polos dan nggemesin.” Atau “Haikal itu loh, cool banget”. Atau “ Kasian ya si Veri, jalan hidupnya susah dan berliku”.
Oleh rangkaian acara itu, maka pemirsa merasa mengenal para akademia itu, dan merasa mereka adalah “teman” yang harus didukung. Keterikatan emosi pulalah yang menyebabkan mereka tidak rela bila akademia favoritnya ter eliminasi. Maka terkirimlah SMS dan telepon dukungan kepada mereka. Bahkan, bagai suporter, mereka rela memberikan berbagai bentuk dukungan, seperti poster, kaos dan spanduk (seperti yang penulis lihat di
kota Solo, terdapat berbagai spanduk mendukung Tia). Maka tidak heran, bila di akhir acara, para penonton bisa menharu-biru bila akademia favoritnya ter eliminasi (personal opinion : saya gak suka acara nangis2 an di akhir AFI :D)
Apa keuntungannya bagi Indosiar ? Luar biasa banyak. SMS dan telepon dengan tarif premium, dan iklan yang bejibun di tiap acara AFI. Dan juga karena para bintang AFI diikat dalam kontrak manajemen Indosiar selama 2 tahun, maka Indosiar dan bintang AFI juga menikmati pendapatan dari tiket konser, bintang iklan TV, acara-acara off air. Dan juga tidak heran kalau kaset dan CD bintang AFI juga laris, karena mereka memang yang diinginkan masyarakat untuk menjadi bintang.