Archive for June, 2005

Ari Lasso dan Ada Band

Monday, June 13th, 2005

AriBarusan aku nonton konser Ari Lasso dan Ada Band di stadion Mandala Krida Jogja. Konsernya cukup asyik dan dipenuhi banyak penonton, and mostly pada pasang-pasangan. Sepertinya konser itu memang diperuntukkan bagi mereka yang sedang menikmati cinta, karena lagu-lagu yang dibawakan memang bertema cinta.

Mengenai penampilan kedua artis tersebut bisa dibilang tidak berimbang, alias Ari Lasso membuktikan bahwa penampilannya jauh lebih entertaining daripada Ada Band. Ada Band terlihat seperti hanya memindahkan latihan di studio ke atas panggung, sehingga interaksi dengan penonton kurang terbentuk, namun Ada Band masih tertolong dengan lagu-lagunya yang cukup popular di telinga penonton sehingga penonton bisa bernyanyi bersama.

Lain halnya dengan penampilan Ari Lasso yang mampu mengajak penonton berjingkrak, bernyanyi, dan bertepuk tangan, bahkan menyalakan korek api bersama-sama di salah satu lagu. Begitu Ari Lasso masuk panggung, terlihat sekali kemampuan vocal, penguasaan panggung, dan komunikasi yang terjalin apik dengan penonton. Bahkan di lagu “Perbedaan” , Ari mengajak seorang penonton cewek bernyanyi bersama dia atas panggung, dan –surprisingly- suara penonton cewek tersebut oke punya.Di akhir konser, penonton benar-benar dibuat puas dengan penampilan Ari Lasso band dan juga pesta kembang api yang menarik.

Kapan lagi nih ada konser yang menarik ?

Melatiku…

Thursday, June 9th, 2005

Melati

melatiku.. apa kabar kamu disana..?
kuharap engkau s’lalu tertawa..
melatiku.. tenang-tenang saja di

sana

..
pedamkan pedih dan sibukkan diri nikmati hari ..

melatiku .. akupun seperti biasanya ..
bersama teman-teman wujudkan mimpi disini ..
melatiku.. aku baik saja sendiri..
sibuk’kan diri dan slalu menanti .. kau kembali ..

lupakanlah diriku sementara ..
jangan terlalu pikirkan langkahku ..
lakukan yang kau suka agar kau bahagia ..
dan percayalah ..di mimpiku ada mimpimu ..
Aaa.. kirim aku bunga ..
kasih ..
Aaa.. getarkan cintaku ..
kasih ..
Aaa.. kukirim kau lagu ..
kasih ..
Aaa tentang isi hatiku .

[Kirim Aku Bunga – SLANK]

Melati memang bunga yang putih dan bersih, baunya pun wangi, sehingga sering digunakan sebagai perlambang kesucian. Sehingga melati digunakan sebagai perlambang cinta dan kasih yang suci dan tulus.

Demikian pula cinta dan kasihku pada sang melati yang saat ini sedang ada disana, sehingga lagu dari Slank itu bias dianggap mewakili perasaanku saat ini. Meskipun mungkin rasa cinta dan rindu tidak cukup hanya diwakili oleh lirik dan lagu, namun ketulusan inilah yang merupakan satu-satunya warna dalam cintaku.

Melati, aku baik-baik saja disini, moga kamu juga baik-baik saja disana.

Telematika (bukan cuma) Sebuah Gaya Hidup

Wednesday, June 8th, 2005

Anda mengikuti berita penangkapan Imam Samudera ? Menurut berita, dia berhasil ditangkap ketika dipancing melalui komunikasi lewat internet dengan rekannya yang telah terlebih dahulu ditangkap, sehingga dapat diketahui lokasi keberadaan Imam Samudera saat itu. Seperti telah banyak dilansir oleh media massa, Imam Samudera fasih dalam menggunakan komputer dan internet. Ia sering menenteng laptop dan berkomunikasi ke dunia maya melalui teknologi GPRS. Kefasihannya dengan internet juga dibuktikan dengan pilihannya untuk menggunakan proxy server setiap kali menggunakan salah satu warnet di kota Solo, yang tentu saja bermaksud untuk menyulitkan pelacakan dari pihak berwenang. Bahkan Imam Samudera sempat memperbaiki kerusakan laptop polisi yang menyidiknya. Atau ketika Tommy Soeharto tertangkap, ternyata polisi berbekal analisa komunikasi ponselnya, sehingga dapat diperkirakan lokasi keberadaan orang yang pernah menjadi buronan nomor wahid dari kepolisian.


Semua itu membuktikan bahwa penguasaan teknologi telekomunikasi dan informatika (telematika) bukan hanya penting untuk kalangan akademis ataupun pebisnis, tetapi juga perlu untuk dikuasai oleh kalangan-kalangan lain. Apalagi merupakan tren penggunaan telematika ini telah menjadi suatu gaya hidup terutama di masyarakat perkotaan. Hal ini dapat terlihat dengan makin meningkatnya pengguna telepon seluler, menurut catatan Asosiasi Telepon Selular Indonesia, jika tahun 2000 pelanggan seluler berjumlah 3,67 juta, maka di akhir tahun 2001, industri seluler melayani pelanggan yang hampir dua kalinya, yaitu 6,57 juta pemakai ponsel, dan tahun ini diperkirakan mencapai 8-9 juta pelanggan. Sedangkan jumlah pengakses internet di Indonesia hampir mencapai 2 juta orang. Tren tersebut juga merambah ke lingkungan pemerintahan, ditandai dengan masuknya teknologi e-government hingga ke tingkat pemerintah kabupaten/kota.

Tren dan Gaya Hidup


Namun peningkatan jumlah pengguna tersebut tidak sejalan dengan kesiapan pengguna untuk memasuki era telematika itu sendiri. Masyarakat umum hanya melihat telematika sebagai bagian dari gaya hidup serta tidak berusaha memahami fungsi dan manfaatnya. Ponsel, internet, dan berbagai teknologi sejenis hanyalah dipandang sebagai kosmetik semata.


Orang beramai-ramai membeli dan mengganti ponselnya dengan teknologi terbaru yang berisi bermacam fasilitas, tetapi berapa persen dari mereka yang memerlukan semua fasilitas dalam ponsel terbaru itu atau paling tidak apakah mereka mengetahui fungsi dari fasilitas-fasilitas terbaru tersebut. Terakhir, di saat produsen ponsel memperkenalkan webcam pada ponsel mereka, maka orang-orang pun membelinya tanpa pertimbangan apakah operatornya telah mendukung MMS (Multimedia Messaging Services) di wilayahnya atau belum. Pertimbangan yang digunakan hanyalah bahwa ponsel dengan webcam akan mempergaya penampilan. Lemahnya etika berkomunikasi juga mewarnai para pengguna ponsel di negeri ini, betapa jamaknya kita melihat orang mengemudi mobil sambil bertelepon-ria (padahal di beberapa negara lain bertelepon di mobil telah dilarang karena membahayakan konsentrasi pengemudi). Ataupun juga kadang terdengar dering ponsel di dalam tempat ibadah, ruang kelas, dan ruang rapat.

Saat internet banking diperkenalkan, masyarakat juga bergegas untuk memakainya. Tetapi sebagian dari mereka juga tidak memahami terlebih dahulu cara bertransaksi yang aman melalui internet. Maka terjadilah beberapa kasus nasabah kebobolan rekeningnya. Ketika diusut, kebanyakan kasus terjadi karena kecerobohan nasabah dalam memanfaatkan teknologi tersebut, seperti nasabah salah mengetikkan alamat situs (hingga terjadi kasus klikbca.com yang menghebohkan yang disebabkan nasabah salah ketik menjadi clickbca.com atau beberapa alamat-alamat lain yang mirip), juga karena nasabah meninggalkan username dan passwordnya secara sembarangan di warnet. Padahal pihak penyedia jasa internet banking telah berupaya cukup maksimal untuk keamanan transaksi, tetapi ketidaktahuan pengguna dapat membuat upaya dari pihak penyedia jasa menjadi sia-sia.


Pemandangan yang serupa juga terjadi ketika e-government mulai memasuki pemerintah propinsi dan pemerintah kabupaten/kota, terutama berkaitan dengan era otonomi daerah. Ketika pemerintah propinsi atau kabupaten berlomba-lomba membuat situs daerahnya dan memanfaatkan sistem informasi online. Kehadiran e-government tidak diimbangi dengan ketersediaan sumberdaya manusia yang siap untuk memanfaatkannya. Terlihat dari ketidaksiapan pemerintahan daerah dalam memanfaatkan teknologi paperless dalam administrasi yang sebenarnya merupakan salah satu keuntungan dari penerapan e-government. Atau kurangnya tenaga perawatan sehingga sistem tersebut tidak berfungsi maksimal. Juga menguatnya kesan pemanfaatan e-government sebagai ajang mencari proyek oleh sebagian kalangan, kesan itu muncul setelah melihat biaya pembuatan situs atau sistem informasi yang jauh diatas batas kewajaran.

Edukasi Teknologi

Contoh-contoh diatas kiranya cukup untuk menyimpulkan ketidaksiapan masyarakat umum memasuki era telematika. Menilik dari maksud pemunculannya, telekomunikasi maupun informatika bertujuan untuk mempermudah kehidupan manusia. Dengan hadirnya telematika, maka mau tidak mau kita dihadapkan pada kecenderungan dunia global, dimana sekat-sekat geografis maupun kepentingan menjadi makin semu. Kepentingan bisnis, politik, hingga kriminal menjadi kegiatan yang tidak lagi terhambat oleh jarang, ruang, dan waktu. Sehingga diperlukan peningkatan pengetahuan masyarakat umum maupun pemerintah dan aparat akan telematika. Tentu saja kita tidak ingin bangsa kita hanya menjadi bangsa yang berwatak konsumtif akan teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara produktif, sehinga pada gilirannya akan memaksimalkan peran penggunanya dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi, dan juga meningkatkan pelayanan pemerintah dan aparat kepada masyarakat.

Edukasi tentang teknologi tidak hanya berhenti pada cara pakai teknologi tetapi juga fungsi, dampak, keuntungan dan kerugian dari teknologi tersebut. Penggandaan simcard, penipuan lewat SMS, carding, cracking, hingga cyberwar merupakan sebagian dari resiko yang perlu dikenal oleh masyarakat dan aparat. Regulasi dari pemerintah tentunya diharapkan mampu membuka pintu seluas-luasnya bagi pemanfaatan telematika, tetapi juga harus dibarengi dengan kesiapan hukum dan aparat penegak hukum untuk menangani berbagai tindak penyalahgunaan. Memang aparat perlu bekerja keras untuk mempelajari dan memahami teknologi, tetapi hasil yang didapat sebanding dengan kerja keras tersebut, seperti contoh keberhasilan penangkapan Imam Samudera dan Tommy Soeharto yang dipaparkan diatas.

Teknologi telematika bukanlah momok yang harus dijauhi karena resikonya, bukan pula sekedar kosmetik gaya hidup, tetapi teknologi yang selayaknya mendatangkan manfaat sebesar-besarnya bagi bangsa kita.

Sensualitas Sarjana Teknologi Informasi

Wednesday, June 8th, 2005

Ibarat gadis, maka sensualitas sarjana Teknologi Informasi (TI) memang menggiurkan. Berbagai bidang selalu melirik sarjana teknologi informasi untuk melengkapi “amunisi” mereka. Industri, pemerintahan, militer, hingga pendidikan memerlukan ahli-ahli TI untuk mendukung, memperlancar dan mengembangkan bidang-bidang mereka tersebut. Namun, seperti gadis sexy, cukupkah hanya bermodal sensualitas ilmu TI saja ? Lebih jauh, apakah para sarjana TI akan berhenti pada tahap dilirik saja ?  Atau dimanfaatkan ke sexy annya sebagai etalase semata ?

Dalam perkembangan dunia, TI sudah menjadi salah satu senjata yang penting di hampir semua bidang. Namun, itu belum tentu berbanding lurus dengan nasib lulusan TI, maupun para profesional dan ahli bidang TI. Mulai dari kesempatan kerja yang makin menyempit, persaingan di dalam dunia kerja yang keras, hingga penghargaan yang tidak seimbang dengan peran TI yang besar (taruhlah bila dibandingkan akuntan atau lawyer).

Memang sarjana TI mesti menguasai ilmu TI karena disitulah letak sensualitas kita. Namun itu saja tidak cukup. Karena ada ribuan orang

Indonesia

yang memiliki sensualitas serupa. Mereka juga memiliki gelar sarjana komputer / sarjana teknik yang sama sensualnya dengan kita. Atau mungkin mereka juga sama-sama telah menunjukkan keahlian TI yang dibutuhkan. Maka dari itu, diperlukan bekal yang cukup untuk bisa bersaing. Karena kompetisi itu tidak hanya terjadi ketika lulus kuliah, tapi juga ketika sudah bekerja.

Communication Skill

Kita hidup sebagai makhluk sosial, maka kita wajib berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pekerjaan pun, kita akan dihadapi masalah kerja tim. Komunikasi yang terjadi tidak hanya antar orang TI, tapi juga dengan divisi dan departemen lain. Kendala utama adalah menjembatani komunikasi antara orang TI dan orang awam TI (misal:dengan client kita). Disinilah diperlukan skill dan pengalaman berkomunikasi. Juga perlu diperhatikan, English is a must ! Semua pengetahuan kebanyakan berasal dari negara-negara bule, bahkan kita juga sering menggunakannya dalam komunikasi verbal dan tulis dengan banyak pihak. So, tidak ada kata terlambat untuk belajar English, meskipun sudah bekerja.

Continuously Learning

Ilmu terus berkembang, pengetahuan terus bertambah. Kita berusaha untuk terus-menerus update pengetahuan saat kuliah, saat baru lulus, maupun saat telah lama bekerja. Keunggulan pengetahuan terbaru akan mengantar kita menjadi lebih kompetitif, serta memiliki nilai lebih dibandingkan orang lain. Tentu kita akan memulai nilai lebih bila kita mampu menerangkan bahkan mengimplementasikan –misalnya- WiMax, Aspect Oriented Programming, W-CDMA, dan lain-lain, Don’t we ?

Thinking Outside The Box

Wake up guys ! Ilmu itu tidak cuma bidang TI. Kita sebaiknya tidak berpikir didalam “kotak” TI. Wawasan dan pengetahuan lain diluar TI juga amat diperlukan. Maka sedikit-sedikit baca bukunya Gede Prama, Al Ries, Jack Trout, Malcolm Galdwell, Philip Kotler, Rhenald Kasali, Kwik Kian Gie, M. Akhyar Adnan, Wimar Witoelar, Nurcholish Madjid, dan lain-lain juga bagus untuk kita. (siapa sih mereka ? :D). Luangkan waktu untuk baca-baca DetikNews, Kompas, SWA, BusinessWeek, dan bacaan lain. Sehingga kita benar-benar mengerti kondisi makro dan mikro

Indonesia

. In fact, sebagian besar CEO dan direksi perusahaan adalah orang-orang berlatar belakang pengetahuan Finance / Audit / Manajemen / Marketing.

Implementasi – Implementasi - Implementasi

Ilmu dan wawasan yang bejibun tidak akan ada gunanya bila tidak diimplementasikan. Ibarat pedang, maka pedang akan berguna bila diasah dan dipakai bertarung. Dengan implementasi di dunia nyata, maka intuisi kita makin terasah. Naluri dan “penciuman” kita juga akan makin tajam bila kita sering berada di tengah-tengah dunia nyata.

Ada

kalanya kita dihadapi ketakutan-ketakutan ketika mencoba “turun gunung”. “Aku mampu gak ya ?” . Go for it ! Gak perlu ragu-ragu lagi.

Semoga kita tidak hanya seorang lulusan TI yang “sexy”, tetapi juga seorang lulusan TI yang diidamkan untuk menjadi pendamping ideal.

Berkomunitas Di Dunia Maya

Wednesday, June 8th, 2005

Hidup di era internet mungkin sulit dibayangkan pada beberapa dekade yang lalu, dimana sebagian aktifitas manusia bisa dilakukan melalui perangkat digital. Kehadiran internet merupakan sebuah terobosan besar di dunia teknologi. Menilik dari maksud pemunculannya, telekomunikasi maupun informatika bertujuan untuk mempermudah kehidupan manusia. Dengan hadirnya internet, maka mau tidak mau kita dihadapkan pada kecenderungan dunia global, dimana sekat-sekat geografis maupun kepentingan menjadi makin semu. Kepentingan bisnis, politik, hingga kriminal menjadi kegiatan yang tidak lagi terhambat oleh jarang, ruang, dan waktu.

Bahkan internet dapat dijadikan sarana untuk berinteraksi serta menghadirkan pola kehidupan sosial yang baru, sehingga para pengguan internet seakan menikmati “dunia baru” yang berbeda dengan yang dialaminya di kehidupan nyata. Hanya dengan duduk di depan komputer,menggerakkan mouse dan mengetik di keyboard, maka dunia hadir di depan mata. Berbagai aktifitas yang bisa dilakukan lewat internet antara lain berkirim surat elektronik, belanja secara online, transaksi bank, bercakap-cakap dengan messenger, atau hanya sekesar berselancar menjelajahi situs-situs web. Dan aktivitas tersebut makin bertambah dengan hadirnya internet generasi ke-2, dimana internet tidak hanya bisa diakses lewat komputer, tapi juga lewat berbagai perangkat lain seperti teleopn seluler, Personal Digital Assistant ( PDA ) , bahkan beberapa game console telah mampu melakukan akses internet.

Sudah menjadi naluri dari manusia sebagai makhluk sosial untuk berkumpul dan membentuk komunitas. Hal demikian juga terjadi di dunia maya. Sehingga diciptakanlah berbagai kemudahan untuk berkumpul dan membentuk komunitas di internet. Komunitas itu bisa terbentuk karena kesamaan hobi, minat, atau memang sengaja diciptakan sebuah komunitas demi kepentingan tertentu seperti : mencari teman, bermain game, bahkan ajang mencari jodoh.. Hal-hal yang bisa dimanfaatkan dalam internet untuk membentuk komunitas misalnya adalah : mailing list, forum online, chatting room, online game, dan situs web.

Macam Komunitas

Komunitas di internet tidak hanya dapat dipergunakan oleh orang yang memiliki profesi di bidang teknologi informasi, tetapi dapat dibentuk dan dipergunakan oleh banyak orang dengan beragam latar belakang profesi maupun tujuan.

Salah satu macam komunitas di internet adalah komunitas yang dibentuk berdasarkan minat yang sama. Minat itu bisa berupa kegemaran akan suatu hal, misal : mailing list penggemar motor besar, forum dan mailing list penggemar klub sepakbola, situs web komunitas penggemar artis tertentu, dan lain-lain. Di internet, mereka bisa berbagi cerita melalui mengenai perkembangan terbaru dari kegemaran mereka, berbagi artikel menarik, hingga mengadakan acara bersama.

Minat itu juga bisa berupa minat khusus terhadap satu bidang ilmu, pengetahuan dan teknologi. Maka bermunculanlah forum online para peminat telepon seluler,  forum online pemerhati masalah budaya, forum online masalah hukum, mailing list masalah manajemen, hingga kumpulan orang-orang dengan profesi tertentu.

Tujuan komunitas di internet yang lain adalah untuk menjalin pertemanan, baik itu menjalin teman-teman baru, atau menemukan kembali teman-teman lama. Disini perangkat lunak yang dikenal antara lain instant messenger (Yahoo! Messenger, ICQ, MSN Messenger) dan MIRC. Dengan menggunakan perangkat lunak tersebut, orang-orang bisa saling berkenalan dan bercakap-cakap lewat tulisan, bahkan dengan kecanggihan teknologi, saat ini bisa digunakan untuk bercakap-cakap dengan microphone dan headphone, bahkan apabila menggunakan webcam maka kita dapat melihat lawan bicara. Diawali dari bercakap-cakap itulah maka kemudian akan muncul komunitas pertemanan (disebut room) yang bisa digunakan untuk berbincang-bincang bersama.

Sementara itu, juga ada bentuk pertemanan lain yang saat ini tidak kalah menarik  adalah melalui web. Salah satu situs yang cukup dikenal adalah www.friendster.com . Melalui situs tersbut, maka pengguna internet dapat menampilkan profil dirinya serta menjalin jaringan pertemanan, bahkan tidak sedikit yang menemukan kembali teman-teman lama.

Game Online yang sedang marak sebenarnya juga merupakan sebuah komunitas yang memang dibentuk untuk bermain game. Karena di permainan tersebut terjadi interaksi dan komunikasi antar pemain, kemudian mereka bersama-sama membentuk dan bekerjasama dalam tim yang diharapkan mampu memenangi permainan.

The Power of Community      

Komunitas dunia maya memiliki berbagai potensi dan kekuatan yang bisa dimanfaatkan oleh pengguna internet sebagai individu maupun sebagai entitas bisnis. Dari hal yang sederhana,  jaringan pertemanan merupakan ajang saling mengenal dan bertemu teman-teman sehingga dapat memupus jarak dan waktu dalam berkomunikasi, bahkan merupakan sebuah wadah yang efektif dalam menjalin kebersamaan. Bahkan terkadang terselip sisi-sisi humanis dalam kebersamaan para anggotanya, seperti pernah terjadi ada berita seorang anak di Jakarta yang membutuhkan donor darah jenis tertentu, kemudian berita tersebut dikirim ke berbagai mailing list, dalam tempo sehari maka terdapat banyak calon donor darah dari anggota berbagai mailing list yang bersedia membantu dengan ikhlas.

Dengan berkumpulnya banyak orang, tak ayal lagi komunitas dunia maya menjadi ajang berbagi pengetahuan. Mailing list dan forum online merupakan ajang diskusi serta melontarkan berbagai ide serta pengetahuan antar anggotanya. Sebagai contoh, mailing list marketing-club@yahoogroups.com merupakan komunitas para peminat marketing, dimana ribuan anggotanya - pakar-pakar, praktisi, maupun mahasiswa yang berminat di bidang marketing - dapat berinteraksi langsung, sehingga memperkaya perbendaharaan ilmu.

Tidak hanya berhenti disitu, komunitas dunia maya juga dimanfaatkan sebagai ajang penjajagan bisnis, sehingga tak jarang terjadi berbagai kerjasama bisnis seperti penjualan pernak-pernik dalam kelompok penggemar, jaringan bisnis yang memungkinkan terjadi transaksi bisnis ( misal : www.indonetwork.co.id ), hingga pelaksanaan event-event offline bagi para angggota komunitas itu. Juga bukan rahasia lagi, bahwa eksplorasi peluang bisnis di internet banyak dilakukan melalui dorongan untuk membentuk komunitas. Kita bisa lihat contohnya dari keberhasilan Game Ragnarok Online atau  Friendster yang sengaja membidik kecenderungan manusia untuk berkumpul dan berinteraksi dengan sesamanya.

Melihat perkembangan dunia internet, maka komunitas dunia maya merupakan salah satu daya tarik bagi para pengguna internet yang masih bisa terus berkembang serta dieksplorasi bentuk dan keuntungannya.

Review Sukses AFI

Wednesday, June 8th, 2005

Tia, Micky, Haikal, Nia …..atau Veri, Mawar, Kia…Nama-nama itu begitu populer setelah sukses acara Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Sebuah popularity contest yang digelar Indosiar dan saat ini memasuki jilid ke-3. Kenapa acara (dan juga akademia AFI) itu bisa populer di

Indonesia

? Kenapa bisa ratusan ribu orang

Indonesia

rela ber SMS atau menelpon untuk mendukung akademia favoritnya ?

AFI sebenarnya merupakan acara yang lisensinya diambil dari sebuah acara yang bertajuk La Academia di Mexico, kemudian Indosiar mengemas sedemikian rupa untuk masyarakat

Indonesia

. Acaranya sebenarnya merupakan semacam singing contest yang ditentukan pemenangnya berdasarkan SMS/telepon dari pemirsa. Disinilah terlihat kecerdikan dari Indosiar untuk mengemas rangkaian acara terdiri dari Pre-Eliminasi, Up Close and Personal, Diary AFI, Konser, Menjelang Konser, dan lain-lain. Acara-acara itu sukses menjadi acara dengan rating yang tinggi menurut surver AC Nielsen.

Kunci utama dalam AFI adalah “Emosi”. AFI sebisa mungkin melibatkan emosi pemirsa dalam setiap rangkaian acaranya. Selain penampilan di Konser, rangkaian acara lain tidak kalah pentingnya dalam menggaet permirsa. Dimulai dari menyebut nama akademia dan asal daerah seleksinya, disini pemirsa mulai digiring “semangat kedaerahannya” untuk mendukung akademia. Lalu, di Up Close and Personal, pemirsa dikenalkan pribadi-pribadi para akademia, lengkap dengan kisah-kisah mengharukan yang muncul dari mereka, maka simpati, empati, ataupun kekaguman permirsa pada perjalanan hidup mereka, membuat keterikatan itu makin muncul. Sedangkan Diary AFI mengajak pemirsa untuk melihat keseharian para akademia, disitu terlihat sifat-sifat berbeda dari para akademia, ada yang pendiam, pemalu, cerewet, polos, dan lain-lain. Karena pada dasarnya manusia memiliki tipe sikap ideal  yang berbeda, maka lewat diary AFI inilah para pemirsa menemukan sendiri masing-masing akademia dengan sifat favoritnya. “Oh, aku suka Nia karena dia polos dan nggemesin.” Atau “Haikal itu loh, cool banget”. Atau “ Kasian ya si Veri, jalan hidupnya susah dan berliku”.

Oleh rangkaian acara itu, maka pemirsa merasa mengenal para akademia itu, dan merasa mereka adalah “teman” yang harus didukung. Keterikatan emosi pulalah yang menyebabkan mereka tidak rela bila akademia favoritnya ter eliminasi. Maka terkirimlah SMS dan telepon dukungan kepada mereka. Bahkan, bagai suporter, mereka rela memberikan berbagai bentuk dukungan, seperti poster, kaos dan spanduk (seperti yang penulis lihat di

kota

Solo, terdapat berbagai spanduk mendukung Tia). Maka tidak heran, bila di akhir acara, para penonton bisa menharu-biru bila akademia favoritnya ter eliminasi (personal opinion : saya gak suka acara nangis2 an di akhir AFI :D)

Apa keuntungannya bagi Indosiar ? Luar biasa banyak. SMS dan telepon dengan tarif premium, dan iklan yang bejibun di tiap acara AFI. Dan juga karena para bintang AFI diikat dalam kontrak manajemen Indosiar selama 2 tahun, maka Indosiar dan bintang AFI juga menikmati pendapatan dari tiket konser, bintang iklan TV, acara-acara off air. Dan juga tidak heran kalau kaset dan CD bintang AFI juga laris, karena mereka memang yang diinginkan masyarakat untuk menjadi bintang.

Perang Bisnis Seluler Belum Selesai

Wednesday, June 8th, 2005

Masih rendahnya tingkat penetrasi pengguna telepon di Indonesia serta makin tingginya kebutuhan komunikasi mobile menyebabkan bisnis telekomunikasi seluler menjadi lahan menarik untuk digarap di Indonesia. Saat ini di Indonesia telah beroperasi beberapa operator telekomunikasi berbasis seluler. Operator-operator tersebut bisa disebutkan contohnya adalah Telkomsel, Indosat, XL, dan juga Lippo Telecom yang berbasis teknologi GSM, kemudian Mobile-8 yang berbasis teknologi CDMA, serta Bakrie Telecom (Esia), Telkom (Flexy), dan Indosat (Star_One) yang juga berbasis CDMA namun dengan jangkauan lokal (fixed wireless). Selain itu masih terdapat CAC dan NTS yang telah memegang lisensi sebagai operator 3G berbasis WCDMA.

Dengan jumlah nomor yang telah beredar diperkirakan sekitar 30 juta nomer, maka diperkirakan masih terdapat pasar yang cukup potensial di Indonesia bagi operator seluler. Karena berbeda dengan telepon fixed line yang biasanya hanya memerlukan satu nomor telepon untuk dipakai satu keluarga/rumah, maka nomer ponsel bisa dimiliki tiap anggota keluarga, bahkan ada orang yang memiliki lebih dari satu nomer ponsel. Sehingga perang perebutan pasar antara berbagai operator pun nampaknya tidak terelakkan.

Segmentasi , Target, dan Posisi di Pasar

Sesuai dengan umumnya produk teknologi, maka teknologi seluler juga mengikuti kaidah network effect, dimana dengan makin banyak pelanggan yang dimiliki suatu operator, maka akan menarik makin banyak pelanggan baru ke operator tersebut, karena orang akan cenderung mengikuti pilihan orang banyak. Selain itu, dengan makin banyak pelanggan, maka variasi layanan yang diberikan oleh operator  akan makin banyak dan bisa dinikmati dengan optimal oleh pelanggan.

Melihat hal tersebut, maka operator tidak boleh hanya terfokus di satu segmen masyarakat saja. Pasar low end yang lebih besar jumlah marketnya namun lebih kecil ARPU ( Average Revenue Per User), maupun pasar middle up yang lebih kecil jumlah marketnya namun lebih besar ARPU nya harus sama-sama digarap. Namun tentu tiap segmen memerlukan layanan yang berbeda. Sehingga langkah meluncurkan produk yang berbeda untuk segmen yang berbeda merupakan sebuah langkah yang tepat.

Untuk pasar low end, yang diperlukan adalah sarana berkomunikasi suara dan sms yang berharga murah. Disini telah ada produk kartu As dari Telkomsel, kartu Jempol dari XL, serta IM3 (dengan paket M3 Shock) dari Indosat yang bersaing head to head dengan fasilitas dan harga yang hampir serupa.Lalu di pasar middle ada Simpati dari Telkomsel, Bebas dari XL, serta Mentari dari Indosat, serta Fren dari Mobile-8. Kemudian di pasar high end ada kartu-kartu pasca bayar seperti Halo dari Telkomsel, XPlore dari XL, dan Matrix dari Indosat.

Segmentasi juga tidak hanya berdasarkan ARPU nya, namun ada juga bisa dilakukan pembagian segmen berdasar kondisi psikografis-behavior, yaitu ada segmen pengguna ponsel namun ingin digunakan dalam area lokal saja, atau sebagai pengganti fixed line. Di pasar inilah berada Flexy, Star_One, dan Esia.

Karena penggunaan telepon sebagian besar untuk suara dan SMS serta tingkat mobilitas orang yang sebagian besar masih terbatas di area lokal, maka boleh dibilang batas teknologi menjadi semu, sehingga kompetisipun bisa terjadi antar produk yang memiliki teknologi dan kategori  yang berbedapun bisa terjadi. Sehingga para operator GSM/CDMA nasional saat ini sesungguhnya juga berkompetisi secara riil dengan operator CDMA fixed wireless.

Layanan dan Kemudahan Itu Penting Bagi Pelanggan

Teknologi yang terus berkembang, menjadikan munculnya berbagai layanan dan kemudahan yang bisa diberikan kepada para pelanggannya. Faktor layanan dan kemudahan inilah yang akan memelihara loyalitas pelanggan pada prodiuk operator. Ketersediaan outlet-outlet / agen-agen penjualan kartu perdana dan voucher yang luas,sehingga pelanggan mudah untuk membeli kartu/voucher juga merupakan faktor yang perlu diperhatikan. Juga perlu diperhatikan adalah penanganan keluhan dari pelanggan yang bisa disampaikan lewat call center maupun secara langsung ke pusat layanan pelanggan di kotanya. Kecepatan penanganan, keramahan, serta kemudahan prosedur akan membuat pelanggan makin cinta terhadap produk operator, sehingga enggan untuk berpaling ke produk lain. Kemudahan prosedur misalnya bisa diberikan pada prosedur pergantian kartu dengan nomer yang sama apabila terjadi kerusakan atau kehilangan.

Meskipun suara dan SMS masih memegang peranan terpenting dalam pendapatan operator, namun sebagai bagian dari produk teknologi, maka layanan-layanan yang mengadopsi teknologi terkini juga harus dapat disediakan oleh operator. WAP dan MMS, Value Added SMS/MMS, lalu teknologi GPRS dan EDGE, serta berbagai fitur menarik lain bisa ditawarkan kepada pelanggan. Salah satu yang mungkin bisa dieksplorasi adalah teknologi LBS (Location Based Service) yang bisa digunakan untuk SMS/MMS Marketing, fitur2 penunjuk lokasi, maupun fitur penunjuk fasilitas terdekat. Misal bila seorang pelanggan berada di Mall X, maka dia akan mendapat SMS marketing yang berisi “Ada diskon 20 % di supermarket A di Mall X” atau “Ayunkan langkah anda ke lantai 3 Mall X untuk mendapatkan buku menarik di toko Z”. Mungkin saat ini layanan-layanan tambahan itu belum cukup signifikan, tetapi operator akan dicap “ketinggalan” bila tidak dapat menawarkan layanan-layanan tambahan.

Price War ?

Bisnis seluler saat ini memang mulai memainkan price war. Ketika bermacam-macam teknologi ditawarkan namun pendapatan dari teknologi itu belum signifikan, serta mudahnya fitur dan layanan operator ditiru oleh operator lain. Maka perang harga kemudian muncul sebagai upaya pemasaran, dan kemudian muncul reaksi-reaksi dari para operator sebagai bagian dari kompetisi Bisa dilihat betapa murahnya kartu perdana, sehingga dengan bermodal 20 ribu rupiah, maka seseorang bisa mendapat nomer telepon. Juga makin rendahnya tarif percakapan yang digunakan oleh semua operator seluler.

Secara jangka pendek, perang harga memang akan menarik pelanggan baru. Perang harga bisa juga dibaca sebagai “Adu Nafas Finansial” antar operator seluler, mengingat operator seluler dipastikan menggunakan sistem subsidi pada harga kartu perdananya, sehingga hanya operator yang “bernafas panjang” yang bisa survive, serta akan menciptakan entry barrier bagi operator-operator baru, karena akan membuat calon pelanggan berpikir “Jangkauan luas, harga murah, kenapa pilih yang lain ?”..

Namun murahnya harga kartu perdana akan mempertinggi terjadinya petualangan pelanggan dari satu nomer ponsel ke nomer lain. Juga perang harga tidak sehat kalau berlangsung secara terus menerus, memang hal itu menguntungkan bagi konsumen, namun bila harga menjadi satu-satunya diferensiasi, maka kartu seluler akan berubah menjadi komoditi, dan akhirnya sia-sialah investasi besar untuk membangun brand. Maka operator seluler harus secara kontinyu mengkomunikasikan positioningnya kepada masyarakat serta membuat berbagai diferensiasi atas produk-produknya, sehingga bisnis seluler akan tetap menjadi bisnis yang menguntungkan bagi para operator

Sejarah Web

Wednesday, June 8th, 2005

Web merupakan bagian yang populer dari penggunaan internet. Asal mula web sebenarnya berasal dari proposal yang ditulis oleh Tim Berners-Lee pada bulan Maret 1989 untuk Cern di Swiss (European Laboratory for Particle Physics). Dia juga mennuliskan sebuah paper tentang hypertext yang menjelaskan tentang konsep dasar dibangunnya web yang terdiri dari : content (idealnya dapat dibaca secara universal), links (hypertext), client viewer (browser), dan aplikasi server (httpd) yang mengirimkan content. Isi dari proposal dan paper tersebut bisa dilihat di http://www.w3.org/History/1989/proposal.html dan http://www.w3.org/History’19921103-hypertext/hypertext/WWW/proposal.html.

Kemudian pada bulan Mei 1991, lingkungan www disebarkan pada mesin-mesin di Cern. Pada November 1992 dicatat telah ada 26 server WWW yang telah online. Setelah itu pada bulan Maret 1994, Marc Andreeson, pembuat web browser Mosaic, meninggalkan NCSA dab\n mendirikan “Mosaic Communication Corp.” yang kemudian akan menjadi Netscape.

W3C (http://www.w3.org/) sendiri berdiri pada bulan Oktober 1994. W3C adalah organisasi internasional yang bertanggungjawab untuk memelihara standart yang berkaitan dengan implementasi teknis dari web ( seperti html, xml, css, dhtml, dan http).

Komponen-komponen dari web sendiri tersusun atas : infrastruktur transfer data, content (format dasar dari hampir semua web content adalah html), client, server (komputer yang menyimpan kemudian mendistribusikan web content ke client), serta protokol (aturan yang digunakan oleh server dan client untuk berkomunikasi). Kesemuanya saling terkait untuk menjadikan halaman web seperti yang sering kita lihat.

Kenalan dengan GSM (bagian 2) : Take A Look At The Infrastructure

Friday, June 3rd, 2005

Tulisan ini merupkan kelanjutan dari tulisan bagian satu. Disini penulis akan memberikan gambaran tentang subsistem GSM dan sekelumit implementasi subsistem tersebut pada dunia nyata.

Hierarki dari sistem GSM terdiri dari cell, Location Area (LA), Service Area, Public Land Mobile Network (PLMN) area, dan GSM service area. Beberapa cell menjadi satu LA. Beberapa LA menjadi satu Service Area, dan seterusnya. Sedangkan GSM service area adalah semua wilayah/negara yang menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) GSM.

Sistem GSM terdiri dari dua subsistem yaitu Switching System dan Base Station System. Masing-masing subsistem akan dijelaskan berikut.

Switching System (SS)

Subsistem Switching System terdiri dari lima entitas fungsional yaitu :
1. Mobile services Switcing Centre (MSC)
MSC bertugas menjalankan fungsi switching antar pelanggan seluler ataupun antara pelanggan seluler dengan PSTN (telepon rumah).
2. Home Location Register (HLR)
HLR berisi data dari pelanggan seluler yang terdaftar dalam satu area PLMN (Public Land Mobile Network).
3. Visitor Location Register (VLR)
VLR berisi data para pelanggan seluler beserta Location Areanya. Pelanggan yang ada datanya di VLR adalah pelanggan yang sedang berada di Service Area tersebut.
4. Authentication Center (AUC)
AUC menangani autentikasi dan fasilitas keamanan dalam sistem.
5. Equipment Identity Register (EIR)
EIR berisi daftar merk dan model mobile station (handphone) yang telah direkomendasi oleh sistem. Sehingga setiap akan terjadi komunikasi, EIR mencocokkan model handphone pelanggan dengan datanya.Komunikasi hanya akan terjadi bila pelanggan menggunakan handphone yang di approve oleh EIR.

Base Station System (BSS)

Subsistem Base Station System terdiri dari dua entitas fungsional, yaitu:
1. Base Station Controller (BSC)
BSC mengatur setup dan operasi dari BTS-BTS.
2. Base Transceiver Station (BTS)
BTS menangani transmisi dari dan ke mobile station.

In The Real World

Dalam kenyataannya, ada berbagai vendor yang menawarkan infrastruktur GSM tersebut. Operator seluler bebas memilih vendor yang akan digunakan. Dalam sebuah subsistem harus menggunakan vendor yang sama, karena tiap vendor memiliki teknik yang berbeda dalam implementasi subsistem GSM. Namun subsistem berbeda dapat berasal dari vendor yang berbeda, karena hubungan antar subsistem merupakan standar GSM. Jadi misal SS menggunakan vendor Ericcson dan BSS menggunakan Siemens, maka keseluruhan entitas fungsional didalam SS menggunakan produk dari Ericcson, dan keseluruhan entitas fungsional dalam BSS menggunakan produk dari Siemens, dan antara SS dan BSS tersebut tetap dapat berkomunikasi dan berjalan dalam sebuah sistem yang sama. Berbagai vendor yang menawarkan infrastruktur GSM antara lain Ericcson, Siemens, Nokia, dan Fujitsu.

Seperti telah disebut diatas, masing-masing vendor memiliki ciri khas tersendiri dalam implementasi subsistem GSM. Ericcson mengimplementasikan subsistem GSM dalam standar yang mereka sebut CME 20. Mereka membuat MSC dan VLR dalam unit yang terintegrasi, HLR dalam unit terpisah, serta BSC pada unit yang terpisah. Ericcson juga menyebut BTS sebagai RBS (Radio Base Station). Sedangkan Siemens selain menyebut SS sebagai SSS (Switching Sub System), BSS sebagai RSS (Radio Sub System) dan menambahkan OMS (Operation and Maintenanace Sub System).

Di Indonesia, seringkali sebuah Switching System diletakkan dalam satu gedung bersama dengan beberapa BSC sekaligus, dan kemudian menyebutnya sebagai Switching Centre. Jumlah dan letak Switching Centre sendiri tergantung desain dari masing-masing operator, namun biasanya terletak di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang/Jogja, Surabaya, Medan, Denpasar, Batam, serta masing-masing sebuah di pulau Kalimantan dan Sulawesi.

Selain itu, semua operator di Indonesia -bahkan di negara-negara asia yang menggunakan GSM- tidak menerapkan penggunaan EIR (Equipment Identity Register) dalam sistem GSM mereka. Sehingga semua jenis dan merk handphone dapat beroperasi dalam jaringan GSM di Indonesia.

Kenalan dengan GSM (bagian 1)

Friday, June 3rd, 2005

Dengan makin menyatunya teknologi telekomunikasi dan informatika -lazim disebut TELEMATIKA- maka adalah sebuah langkah yang bijaksana apabila kita mengenal juga teknologi telekomunikasi.

Di tulisan ini akan membahas secara ringkas tentang teknologi GSM (Global System for Mobile communication) sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman penulis.

GSM merupakan singkatan dari Global System for Mobile communication. Standar ini dibuat di Eropa dengan maksud untuk membuat sistem telekomunikasi seluler yang handal yang dapat digunakan oleh berbagai negara.Sistem seluler sendiri adalah sistem yang menggunakan power transmisi yang kecil sehingga memungkinkan frequency reuse (penggunaan frekuensi yang sama pada jarak yang berjauhan).

GSM memiliki 3 macam frekuensi: 900 MHz, 1800 dan 1900 MHz (juga disebut DCS 1800 dan DCS 1900).

Terus apakah teknik yang digunakan untuk frekuensi-frekuensi tersebut berbeda ?

Jawabnya : tidak.
Teknik-teknik yang digunakan pada semua frekuensi adalah sama persis.Kesemuanya memakai metode akses TDMA (Time Division Multiple Access) serta half duplex (memisahkan frekuensi untuk uplink dan downlink). Juga duplex distance, speech coder, transmission rate, hingga modulasi (dalam hal ini adalah GMSK) semuanya sama.

Di Indonesia, lisensi untuk frekuensi untuk GSM adalah 900 dan 1800 MHz. Dan frekeunsi-frekuensi tersebut telah dialokasikan untuk para operator seluler yang ada di Indonesia. Untuk pemain yang besar (Telkom Grup,Indosat Grup, Excelcomindo (XL)) mereka memiliki alokasi frekuensi di kedua jenis frekuensi tersebut.Kedua frekuensi tersebut memang dapat dinikmati oleh pengguna, karena ponsel yang beredar kebanyakan mendukung dual band (sehingga muncul brand Dual Band dari telkomsel ataupun Connectrix dari proXL).Keuntungan penggunaan dual band adalah apabila jalur komunikasi dapat diarahkan menggunakan frekuensi 900 ataupun 1800 MHz. Dan hal ini dapat diatur oleh operator. Sehingga mengurangi kemungkinan penuhnya frekuensi yang merupakan sebab utama gagalnya komunikasi.

bersambung……