Pindah Alamat Blog
October 11th, 2005 by andrias98Dear all.. sekarang kalo mau akses blogku, buka aja di AboutAndri.blogspot.com , disitulah blog yang akan rajin ku update…jangan lupa tinggal comment ya…
Dear all.. sekarang kalo mau akses blogku, buka aja di AboutAndri.blogspot.com , disitulah blog yang akan rajin ku update…jangan lupa tinggal comment ya…
Ketika marketer berada di comfort zone, seringkali merasa aman nyaman serta kehilangan keberanian untuk melakukan inovasi dan terobosan, apalagi sebagai market leader yang merasa semua strategi dan metode diterapkannya selama ini sudah benar.
Namun manusia sebenarnya sudah terbiasa meninggalkan comfort zone. Ketika kita lahir, kita meniggalkan segala kenyamanan di kandungan ibu kita seperti : makan di supply lewat ari-ari, aman didalam perut. Ataupun ketika dewasa, hendak kuliah atau bekerja di kota lain, kita harus meninggalkan rumah dengan segala kenyamanannya untuk tinggal/kos di kota lain. kita juga meniggalkan masa single untuk memasuki kehidupan baru berumah tangga.
Melihat contoh tersebut, maka sudah seharusnya kita terbiasa untuk terus menerus meninggalkan comfort zone dan berpikir sebagai challenger untuk memotivasi munculnya spirit dan inovasi. Bila market tertentu sudah ditaklukkan, marketer tidak hanya berkewajiban menjaga dan mempertahankan market itu, tapi akan lebih baik bila menimbulkan semangat bahwa marketer tidak sedang bertahan, karena kalau diposisikan bertahan maka gerakan dan strategi yang dikeluarkan akan cenderung konservatif dan bersifat responsif serta reaktif bila ada kompetitor baru. Contoh kasusnya mungkin bisa dilihat dari gerakan Indofood yang cenderung reaktif saat Mie Sedaap diluncurkan.
Kita bisa melihat Coca-cola Company yang saat ini sudah merajai pasar minuman berkarbonasi. Namun mereka tidak terlena dan berhenti di situ, Coca-Cola mencanangkan bahwa semua pelega rasa haus adalah kompetitor, sehingga Coca-cola juga mesti melawan Teh Botol, AMDK, dll. Dengan pola pikir seperti itu, maka kemampuan inovasi Coca-cola tidak berhenti, maka muncullah varian2 baru Fanta maupun Sprite, ataupun berbagai strategi marketing communication yang baru (seperti kampanye Rp.1300 nya).
Contoh lain bisa dilihat dari gerakan Microsoft yang tidak hanya berpuas diri dengan menguasai pangsa pasar Operating System di Personal Computer, tapi juga meneruskan gerakannya dengan menyerbu pasar Operating System di PDA (yang dulunya dikuasai Palm) dan perangkat2 yang lain.
So what do you think ?
salam
Andrias Ekoyuono (andri)
*TerusBelajar*
tes
Mulai Senin 11 Juli 2005, aku pindah ke PT. JAC Indonesia ,jadi sekarang tinggal di jakarta nih. Kantorku adalah konsultan HRD yang memiliki client dari berbagai perusahaan, kebanyakan adalah perusahaan Jepang. Bila temen2 ada yang berminat untuk improving karir kalian, kalian bisa kirim CV (in english) dan foto terbaru ke andri@jacindonesia.com ( andri at jacindonesia.com)
Barusan aku nonton konser Ari Lasso dan Ada Band di stadion Mandala Krida Jogja. Konsernya cukup asyik dan dipenuhi banyak penonton, and mostly pada pasang-pasangan. Sepertinya konser itu memang diperuntukkan bagi mereka yang sedang menikmati cinta, karena lagu-lagu yang dibawakan memang bertema cinta.
Mengenai penampilan kedua artis tersebut bisa dibilang tidak berimbang, alias Ari Lasso membuktikan bahwa penampilannya jauh lebih entertaining daripada Ada Band. Ada Band terlihat seperti hanya memindahkan latihan di studio ke atas panggung, sehingga interaksi dengan penonton kurang terbentuk, namun Ada Band masih tertolong dengan lagu-lagunya yang cukup popular di telinga penonton sehingga penonton bisa bernyanyi bersama.
Lain halnya dengan penampilan Ari Lasso yang mampu mengajak penonton berjingkrak, bernyanyi, dan bertepuk tangan, bahkan menyalakan korek api bersama-sama di salah satu lagu. Begitu Ari Lasso masuk panggung, terlihat sekali kemampuan vocal, penguasaan panggung, dan komunikasi yang terjalin apik dengan penonton. Bahkan di lagu “Perbedaan” , Ari mengajak seorang penonton cewek bernyanyi bersama dia atas panggung, dan –surprisingly- suara penonton cewek tersebut oke punya.Di akhir konser, penonton benar-benar dibuat puas dengan penampilan Ari Lasso band dan juga pesta kembang api yang menarik.
Kapan lagi nih ada konser yang menarik ?
melatiku.. apa kabar kamu disana..? sana
kuharap engkau s’lalu tertawa..
melatiku.. tenang-tenang saja di
pedamkan pedih dan sibukkan diri nikmati hari ..
melatiku .. akupun seperti biasanya ..
bersama teman-teman wujudkan mimpi disini ..
melatiku.. aku baik saja sendiri..
sibuk’kan diri dan slalu menanti .. kau kembali ..
lupakanlah diriku sementara ..
jangan terlalu pikirkan langkahku ..
lakukan yang kau suka agar kau bahagia ..
dan percayalah ..di mimpiku ada mimpimu ..
Aaa.. kirim aku bunga ..
kasih ..
Aaa.. getarkan cintaku ..
kasih ..
Aaa.. kukirim kau lagu ..
kasih ..
Aaa tentang isi hatiku .
[Kirim Aku Bunga – SLANK]
Melati memang bunga yang putih dan bersih, baunya pun wangi, sehingga sering digunakan sebagai perlambang kesucian. Sehingga melati digunakan sebagai perlambang cinta dan kasih yang suci dan tulus.
Demikian pula cinta dan kasihku pada sang melati yang saat ini sedang ada disana, sehingga lagu dari Slank itu bias dianggap mewakili perasaanku saat ini. Meskipun mungkin rasa cinta dan rindu tidak cukup hanya diwakili oleh lirik dan lagu, namun ketulusan inilah yang merupakan satu-satunya warna dalam cintaku.
Melati, aku baik-baik saja disini, moga kamu juga baik-baik saja disana.
Anda mengikuti berita penangkapan Imam Samudera ? Menurut berita, dia berhasil ditangkap ketika dipancing melalui komunikasi lewat internet dengan rekannya yang telah terlebih dahulu ditangkap, sehingga dapat diketahui lokasi keberadaan Imam Samudera saat itu. Seperti telah banyak dilansir oleh media massa, Imam Samudera fasih dalam menggunakan komputer dan internet. Ia sering menenteng laptop dan berkomunikasi ke dunia maya melalui teknologi GPRS. Kefasihannya dengan internet juga dibuktikan dengan pilihannya untuk menggunakan proxy server setiap kali menggunakan salah satu warnet di kota Solo, yang tentu saja bermaksud untuk menyulitkan pelacakan dari pihak berwenang. Bahkan Imam Samudera sempat memperbaiki kerusakan laptop polisi yang menyidiknya. Atau ketika Tommy Soeharto tertangkap, ternyata polisi berbekal analisa komunikasi ponselnya, sehingga dapat diperkirakan lokasi keberadaan orang yang pernah menjadi buronan nomor wahid dari kepolisian.
Semua itu membuktikan bahwa penguasaan teknologi telekomunikasi dan informatika (telematika) bukan hanya penting untuk kalangan akademis ataupun pebisnis, tetapi juga perlu untuk dikuasai oleh kalangan-kalangan lain. Apalagi merupakan tren penggunaan telematika ini telah menjadi suatu gaya hidup terutama di masyarakat perkotaan. Hal ini dapat terlihat dengan makin meningkatnya pengguna telepon seluler, menurut catatan Asosiasi Telepon Selular Indonesia, jika tahun 2000 pelanggan seluler berjumlah 3,67 juta, maka di akhir tahun 2001, industri seluler melayani pelanggan yang hampir dua kalinya, yaitu 6,57 juta pemakai ponsel, dan tahun ini diperkirakan mencapai 8-9 juta pelanggan. Sedangkan jumlah pengakses internet di Indonesia hampir mencapai 2 juta orang. Tren tersebut juga merambah ke lingkungan pemerintahan, ditandai dengan masuknya teknologi e-government hingga ke tingkat pemerintah kabupaten/kota.
Tren dan Gaya Hidup
Namun peningkatan jumlah pengguna tersebut tidak sejalan dengan kesiapan pengguna untuk memasuki era telematika itu sendiri. Masyarakat umum hanya melihat telematika sebagai bagian dari gaya hidup serta tidak berusaha memahami fungsi dan manfaatnya. Ponsel, internet, dan berbagai teknologi sejenis hanyalah dipandang sebagai kosmetik semata.
Orang beramai-ramai membeli dan mengganti ponselnya dengan teknologi terbaru yang berisi bermacam fasilitas, tetapi berapa persen dari mereka yang memerlukan semua fasilitas dalam ponsel terbaru itu atau paling tidak apakah mereka mengetahui fungsi dari fasilitas-fasilitas terbaru tersebut. Terakhir, di saat produsen ponsel memperkenalkan webcam pada ponsel mereka, maka orang-orang pun membelinya tanpa pertimbangan apakah operatornya telah mendukung MMS (Multimedia Messaging Services) di wilayahnya atau belum. Pertimbangan yang digunakan hanyalah bahwa ponsel dengan webcam akan mempergaya penampilan. Lemahnya etika berkomunikasi juga mewarnai para pengguna ponsel di negeri ini, betapa jamaknya kita melihat orang mengemudi mobil sambil bertelepon-ria (padahal di beberapa negara lain bertelepon di mobil telah dilarang karena membahayakan konsentrasi pengemudi). Ataupun juga kadang terdengar dering ponsel di dalam tempat ibadah, ruang kelas, dan ruang rapat.
Saat internet banking diperkenalkan, masyarakat juga bergegas untuk memakainya. Tetapi sebagian dari mereka juga tidak memahami terlebih dahulu cara bertransaksi yang aman melalui internet. Maka terjadilah beberapa kasus nasabah kebobolan rekeningnya. Ketika diusut, kebanyakan kasus terjadi karena kecerobohan nasabah dalam memanfaatkan teknologi tersebut, seperti nasabah salah mengetikkan alamat situs (hingga terjadi kasus klikbca.com yang menghebohkan yang disebabkan nasabah salah ketik menjadi clickbca.com atau beberapa alamat-alamat lain yang mirip), juga karena nasabah meninggalkan username dan passwordnya secara sembarangan di warnet. Padahal pihak penyedia jasa internet banking telah berupaya cukup maksimal untuk keamanan transaksi, tetapi ketidaktahuan pengguna dapat membuat upaya dari pihak penyedia jasa menjadi sia-sia.
Pemandangan yang serupa juga terjadi ketika e-government mulai memasuki pemerintah propinsi dan pemerintah kabupaten/kota, terutama berkaitan dengan era otonomi daerah. Ketika pemerintah propinsi atau kabupaten berlomba-lomba membuat situs daerahnya dan memanfaatkan sistem informasi online. Kehadiran e-government tidak diimbangi dengan ketersediaan sumberdaya manusia yang siap untuk memanfaatkannya. Terlihat dari ketidaksiapan pemerintahan daerah dalam memanfaatkan teknologi paperless dalam administrasi yang sebenarnya merupakan salah satu keuntungan dari penerapan e-government. Atau kurangnya tenaga perawatan sehingga sistem tersebut tidak berfungsi maksimal. Juga menguatnya kesan pemanfaatan e-government sebagai ajang mencari proyek oleh sebagian kalangan, kesan itu muncul setelah melihat biaya pembuatan situs atau sistem informasi yang jauh diatas batas kewajaran.
Edukasi Teknologi
Contoh-contoh diatas kiranya cukup untuk menyimpulkan ketidaksiapan masyarakat umum memasuki era telematika. Menilik dari maksud pemunculannya, telekomunikasi maupun informatika bertujuan untuk mempermudah kehidupan manusia. Dengan hadirnya telematika, maka mau tidak mau kita dihadapkan pada kecenderungan dunia global, dimana sekat-sekat geografis maupun kepentingan menjadi makin semu. Kepentingan bisnis, politik, hingga kriminal menjadi kegiatan yang tidak lagi terhambat oleh jarang, ruang, dan waktu. Sehingga diperlukan peningkatan pengetahuan masyarakat umum maupun pemerintah dan aparat akan telematika. Tentu saja kita tidak ingin bangsa kita hanya menjadi bangsa yang berwatak konsumtif akan teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara produktif, sehinga pada gilirannya akan memaksimalkan peran penggunanya dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi, dan juga meningkatkan pelayanan pemerintah dan aparat kepada masyarakat.
Edukasi tentang teknologi tidak hanya berhenti pada cara pakai teknologi tetapi juga fungsi, dampak, keuntungan dan kerugian dari teknologi tersebut. Penggandaan simcard, penipuan lewat SMS, carding, cracking, hingga cyberwar merupakan sebagian dari resiko yang perlu dikenal oleh masyarakat dan aparat. Regulasi dari pemerintah tentunya diharapkan mampu membuka pintu seluas-luasnya bagi pemanfaatan telematika, tetapi juga harus dibarengi dengan kesiapan hukum dan aparat penegak hukum untuk menangani berbagai tindak penyalahgunaan. Memang aparat perlu bekerja keras untuk mempelajari dan memahami teknologi, tetapi hasil yang didapat sebanding dengan kerja keras tersebut, seperti contoh keberhasilan penangkapan Imam Samudera dan Tommy Soeharto yang dipaparkan diatas.
Teknologi telematika bukanlah momok yang harus dijauhi karena resikonya, bukan pula sekedar kosmetik gaya hidup, tetapi teknologi yang selayaknya mendatangkan manfaat sebesar-besarnya bagi bangsa kita.
Ibarat gadis, maka sensualitas sarjana Teknologi Informasi (TI) memang menggiurkan. Berbagai bidang selalu melirik sarjana teknologi informasi untuk melengkapi “amunisi” mereka. Industri, pemerintahan, militer, hingga pendidikan memerlukan ahli-ahli TI untuk mendukung, memperlancar dan mengembangkan bidang-bidang mereka tersebut. Namun, seperti gadis sexy, cukupkah hanya bermodal sensualitas ilmu TI saja ? Lebih jauh, apakah para sarjana TI akan berhenti pada tahap dilirik saja ? Atau dimanfaatkan ke sexy annya sebagai etalase semata ?
Dalam perkembangan dunia, TI sudah menjadi salah satu senjata yang penting di hampir semua bidang. Namun, itu belum tentu berbanding lurus dengan nasib lulusan TI, maupun para profesional dan ahli bidang TI. Mulai dari kesempatan kerja yang makin menyempit, persaingan di dalam dunia kerja yang keras, hingga penghargaan yang tidak seimbang dengan peran TI yang besar (taruhlah bila dibandingkan akuntan atau lawyer).
Memang sarjana TI mesti menguasai ilmu TI karena disitulah letak sensualitas kita. Namun itu saja tidak cukup. Karena ada ribuan orang
Indonesia yang memiliki sensualitas serupa. Mereka juga memiliki gelar sarjana komputer / sarjana teknik yang sama sensualnya dengan kita. Atau mungkin mereka juga sama-sama telah menunjukkan keahlian TI yang dibutuhkan. Maka dari itu, diperlukan bekal yang cukup untuk bisa bersaing. Karena kompetisi itu tidak hanya terjadi ketika lulus kuliah, tapi juga ketika sudah bekerja.
Communication Skill
Kita hidup sebagai makhluk sosial, maka kita wajib berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pekerjaan pun, kita akan dihadapi masalah kerja tim. Komunikasi yang terjadi tidak hanya antar orang TI, tapi juga dengan divisi dan departemen lain. Kendala utama adalah menjembatani komunikasi antara orang TI dan orang awam TI (misal:dengan client kita). Disinilah diperlukan skill dan pengalaman berkomunikasi. Juga perlu diperhatikan, English is a must ! Semua pengetahuan kebanyakan berasal dari negara-negara bule, bahkan kita juga sering menggunakannya dalam komunikasi verbal dan tulis dengan banyak pihak. So, tidak ada kata terlambat untuk belajar English, meskipun sudah bekerja.
Continuously Learning
Ilmu terus berkembang, pengetahuan terus bertambah. Kita berusaha untuk terus-menerus update pengetahuan saat kuliah, saat baru lulus, maupun saat telah lama bekerja. Keunggulan pengetahuan terbaru akan mengantar kita menjadi lebih kompetitif, serta memiliki nilai lebih dibandingkan orang lain. Tentu kita akan memulai nilai lebih bila kita mampu menerangkan bahkan mengimplementasikan –misalnya- WiMax, Aspect Oriented Programming, W-CDMA, dan lain-lain, Don’t we ?
Thinking Outside The Box
Wake up guys ! Ilmu itu tidak cuma bidang TI. Kita sebaiknya tidak berpikir didalam “kotak” TI. Wawasan dan pengetahuan lain diluar TI juga amat diperlukan. Maka sedikit-sedikit baca bukunya Gede Prama, Al Ries, Jack Trout, Malcolm Galdwell, Philip Kotler, Rhenald Kasali, Kwik Kian Gie, M. Akhyar Adnan, Wimar Witoelar, Nurcholish Madjid, dan lain-lain juga bagus untuk kita. (siapa sih mereka ? :D). Luangkan waktu untuk baca-baca DetikNews, Kompas, SWA, BusinessWeek, dan bacaan lain. Sehingga kita benar-benar mengerti kondisi makro dan mikro
Indonesia . In fact, sebagian besar CEO dan direksi perusahaan adalah orang-orang berlatar belakang pengetahuan Finance / Audit / Manajemen / Marketing.
Implementasi – Implementasi - Implementasi
Ilmu dan wawasan yang bejibun tidak akan ada gunanya bila tidak diimplementasikan. Ibarat pedang, maka pedang akan berguna bila diasah dan dipakai bertarung. Dengan implementasi di dunia nyata, maka intuisi kita makin terasah. Naluri dan “penciuman” kita juga akan makin tajam bila kita sering berada di tengah-tengah dunia nyata.
Ada kalanya kita dihadapi ketakutan-ketakutan ketika mencoba “turun gunung”. “Aku mampu gak ya ?” . Go for it ! Gak perlu ragu-ragu lagi.
Semoga kita tidak hanya seorang lulusan TI yang “sexy”, tetapi juga seorang lulusan TI yang diidamkan untuk menjadi pendamping ideal.
Hidup di era internet mungkin sulit dibayangkan pada beberapa dekade yang lalu, dimana sebagian aktifitas manusia bisa dilakukan melalui perangkat digital. Kehadiran internet merupakan sebuah terobosan besar di dunia teknologi. Menilik dari maksud pemunculannya, telekomunikasi maupun informatika bertujuan untuk mempermudah kehidupan manusia. Dengan hadirnya internet, maka mau tidak mau kita dihadapkan pada kecenderungan dunia global, dimana sekat-sekat geografis maupun kepentingan menjadi makin semu. Kepentingan bisnis, politik, hingga kriminal menjadi kegiatan yang tidak lagi terhambat oleh jarang, ruang, dan waktu.
Bahkan internet dapat dijadikan sarana untuk berinteraksi serta menghadirkan pola kehidupan sosial yang baru, sehingga para pengguan internet seakan menikmati “dunia baru” yang berbeda dengan yang dialaminya di kehidupan nyata. Hanya dengan duduk di depan komputer,menggerakkan mouse dan mengetik di keyboard, maka dunia hadir di depan mata. Berbagai aktifitas yang bisa dilakukan lewat internet antara lain berkirim surat elektronik, belanja secara online, transaksi bank, bercakap-cakap dengan messenger, atau hanya sekesar berselancar menjelajahi situs-situs web. Dan aktivitas tersebut makin bertambah dengan hadirnya internet generasi ke-2, dimana internet tidak hanya bisa diakses lewat komputer, tapi juga lewat berbagai perangkat lain seperti teleopn seluler, Personal Digital Assistant ( PDA ) , bahkan beberapa game console telah mampu melakukan akses internet.
Sudah menjadi naluri dari manusia sebagai makhluk sosial untuk berkumpul dan membentuk komunitas. Hal demikian juga terjadi di dunia maya. Sehingga diciptakanlah berbagai kemudahan untuk berkumpul dan membentuk komunitas di internet. Komunitas itu bisa terbentuk karena kesamaan hobi, minat, atau memang sengaja diciptakan sebuah komunitas demi kepentingan tertentu seperti : mencari teman, bermain game, bahkan ajang mencari jodoh.. Hal-hal yang bisa dimanfaatkan dalam internet untuk membentuk komunitas misalnya adalah : mailing list, forum online, chatting room, online game, dan situs web.
Macam Komunitas
Komunitas di internet tidak hanya dapat dipergunakan oleh orang yang memiliki profesi di bidang teknologi informasi, tetapi dapat dibentuk dan dipergunakan oleh banyak orang dengan beragam latar belakang profesi maupun tujuan.
Salah satu macam komunitas di internet adalah komunitas yang dibentuk berdasarkan minat yang sama. Minat itu bisa berupa kegemaran akan suatu hal, misal : mailing list penggemar motor besar, forum dan mailing list penggemar klub sepakbola, situs web komunitas penggemar artis tertentu, dan lain-lain. Di internet, mereka bisa berbagi cerita melalui mengenai perkembangan terbaru dari kegemaran mereka, berbagi artikel menarik, hingga mengadakan acara bersama.
Minat itu juga bisa berupa minat khusus terhadap satu bidang ilmu, pengetahuan dan teknologi. Maka bermunculanlah forum online para peminat telepon seluler, forum online pemerhati masalah budaya, forum online masalah hukum, mailing list masalah manajemen, hingga kumpulan orang-orang dengan profesi tertentu.
Tujuan komunitas di internet yang lain adalah untuk menjalin pertemanan, baik itu menjalin teman-teman baru, atau menemukan kembali teman-teman lama. Disini perangkat lunak yang dikenal antara lain instant messenger (Yahoo! Messenger, ICQ, MSN Messenger) dan MIRC. Dengan menggunakan perangkat lunak tersebut, orang-orang bisa saling berkenalan dan bercakap-cakap lewat tulisan, bahkan dengan kecanggihan teknologi, saat ini bisa digunakan untuk bercakap-cakap dengan microphone dan headphone, bahkan apabila menggunakan webcam maka kita dapat melihat lawan bicara. Diawali dari bercakap-cakap itulah maka kemudian akan muncul komunitas pertemanan (disebut room) yang bisa digunakan untuk berbincang-bincang bersama.
Sementara itu, juga ada bentuk pertemanan lain yang saat ini tidak kalah menarik adalah melalui web. Salah satu situs yang cukup dikenal adalah www.friendster.com . Melalui situs tersbut, maka pengguna internet dapat menampilkan profil dirinya serta menjalin jaringan pertemanan, bahkan tidak sedikit yang menemukan kembali teman-teman lama.
Game Online yang sedang marak sebenarnya juga merupakan sebuah komunitas yang memang dibentuk untuk bermain game. Karena di permainan tersebut terjadi interaksi dan komunikasi antar pemain, kemudian mereka bersama-sama membentuk dan bekerjasama dalam tim yang diharapkan mampu memenangi permainan.
The Power of Community
Komunitas dunia maya memiliki berbagai potensi dan kekuatan yang bisa dimanfaatkan oleh pengguna internet sebagai individu maupun sebagai entitas bisnis. Dari hal yang sederhana, jaringan pertemanan merupakan ajang saling mengenal dan bertemu teman-teman sehingga dapat memupus jarak dan waktu dalam berkomunikasi, bahkan merupakan sebuah wadah yang efektif dalam menjalin kebersamaan. Bahkan terkadang terselip sisi-sisi humanis dalam kebersamaan para anggotanya, seperti pernah terjadi ada berita seorang anak di Jakarta yang membutuhkan donor darah jenis tertentu, kemudian berita tersebut dikirim ke berbagai mailing list, dalam tempo sehari maka terdapat banyak calon donor darah dari anggota berbagai mailing list yang bersedia membantu dengan ikhlas.
Dengan berkumpulnya banyak orang, tak ayal lagi komunitas dunia maya menjadi ajang berbagi pengetahuan. Mailing list dan forum online merupakan ajang diskusi serta melontarkan berbagai ide serta pengetahuan antar anggotanya. Sebagai contoh, mailing list marketing-club@yahoogroups.com merupakan komunitas para peminat marketing, dimana ribuan anggotanya - pakar-pakar, praktisi, maupun mahasiswa yang berminat di bidang marketing - dapat berinteraksi langsung, sehingga memperkaya perbendaharaan ilmu.
Tidak hanya berhenti disitu, komunitas dunia maya juga dimanfaatkan sebagai ajang penjajagan bisnis, sehingga tak jarang terjadi berbagai kerjasama bisnis seperti penjualan pernak-pernik dalam kelompok penggemar, jaringan bisnis yang memungkinkan terjadi transaksi bisnis ( misal : www.indonetwork.co.id ), hingga pelaksanaan event-event offline bagi para angggota komunitas itu. Juga bukan rahasia lagi, bahwa eksplorasi peluang bisnis di internet banyak dilakukan melalui dorongan untuk membentuk komunitas. Kita bisa lihat contohnya dari keberhasilan Game Ragnarok Online atau Friendster yang sengaja membidik kecenderungan manusia untuk berkumpul dan berinteraksi dengan sesamanya.
Melihat perkembangan dunia internet, maka komunitas dunia maya merupakan salah satu daya tarik bagi para pengguna internet yang masih bisa terus berkembang serta dieksplorasi bentuk dan keuntungannya.
Tia, Micky, Haikal, Nia …..atau Veri, Mawar, Kia…Nama-nama itu begitu populer setelah sukses acara Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Sebuah popularity contest yang digelar Indosiar dan saat ini memasuki jilid ke-3. Kenapa acara (dan juga akademia AFI) itu bisa populer di
Indonesia ? Kenapa bisa ratusan ribu orang
Indonesia rela ber SMS atau menelpon untuk mendukung akademia favoritnya ?
AFI sebenarnya merupakan acara yang lisensinya diambil dari sebuah acara yang bertajuk La Academia di Mexico, kemudian Indosiar mengemas sedemikian rupa untuk masyarakat
Indonesia . Acaranya sebenarnya merupakan semacam singing contest yang ditentukan pemenangnya berdasarkan SMS/telepon dari pemirsa. Disinilah terlihat kecerdikan dari Indosiar untuk mengemas rangkaian acara terdiri dari Pre-Eliminasi, Up Close and Personal, Diary AFI, Konser, Menjelang Konser, dan lain-lain. Acara-acara itu sukses menjadi acara dengan rating yang tinggi menurut surver AC Nielsen.
Kunci utama dalam AFI adalah “Emosi”. AFI sebisa mungkin melibatkan emosi pemirsa dalam setiap rangkaian acaranya. Selain penampilan di Konser, rangkaian acara lain tidak kalah pentingnya dalam menggaet permirsa. Dimulai dari menyebut nama akademia dan asal daerah seleksinya, disini pemirsa mulai digiring “semangat kedaerahannya” untuk mendukung akademia. Lalu, di Up Close and Personal, pemirsa dikenalkan pribadi-pribadi para akademia, lengkap dengan kisah-kisah mengharukan yang muncul dari mereka, maka simpati, empati, ataupun kekaguman permirsa pada perjalanan hidup mereka, membuat keterikatan itu makin muncul. Sedangkan Diary AFI mengajak pemirsa untuk melihat keseharian para akademia, disitu terlihat sifat-sifat berbeda dari para akademia, ada yang pendiam, pemalu, cerewet, polos, dan lain-lain. Karena pada dasarnya manusia memiliki tipe sikap ideal yang berbeda, maka lewat diary AFI inilah para pemirsa menemukan sendiri masing-masing akademia dengan sifat favoritnya. “Oh, aku suka Nia karena dia polos dan nggemesin.” Atau “Haikal itu loh, cool banget”. Atau “ Kasian ya si Veri, jalan hidupnya susah dan berliku”.
Oleh rangkaian acara itu, maka pemirsa merasa mengenal para akademia itu, dan merasa mereka adalah “teman” yang harus didukung. Keterikatan emosi pulalah yang menyebabkan mereka tidak rela bila akademia favoritnya ter eliminasi. Maka terkirimlah SMS dan telepon dukungan kepada mereka. Bahkan, bagai suporter, mereka rela memberikan berbagai bentuk dukungan, seperti poster, kaos dan spanduk (seperti yang penulis lihat di
kota Solo, terdapat berbagai spanduk mendukung Tia). Maka tidak heran, bila di akhir acara, para penonton bisa menharu-biru bila akademia favoritnya ter eliminasi (personal opinion : saya gak suka acara nangis2 an di akhir AFI :D)
Apa keuntungannya bagi Indosiar ? Luar biasa banyak. SMS dan telepon dengan tarif premium, dan iklan yang bejibun di tiap acara AFI. Dan juga karena para bintang AFI diikat dalam kontrak manajemen Indosiar selama 2 tahun, maka Indosiar dan bintang AFI juga menikmati pendapatan dari tiket konser, bintang iklan TV, acara-acara off air. Dan juga tidak heran kalau kaset dan CD bintang AFI juga laris, karena mereka memang yang diinginkan masyarakat untuk menjadi bintang.